AXE House • Detail | Article

Interview Sub - #CowoSabi

Interview dengan Rapper Sabi - Havie Parkasya aka Laze.
Channeling the personality of #CowoSabi dengan kreativitas dan kepribadiannya yang bold, Havie Parkasya or famously known as Laze merupakan penggawa hip-hop Indonesia yang memulai karirnya sebagai rapper dari freestyle rap battle.
 
Menjelma menjadi a force to be reckoned with di scene hip-hop Indonesia dengan karya dan stylenya, inilah cerita tentang diri seorang Havie Parkasya, inspirasinya, karya bermusiknya, dan kepribadiannya yang sabi.
 
Scroll down for our exclusive interview with Havie Parkasya aka Laze.



Q.     Hi Laze, darimana lo belajar rhyming and rapping in general?
Answer:
Hi man, gue mulai tertarik dengan rap saat gue mencoba ngafalin lagu Linkin Park waktu SD dan gue merasa bisa. Dari situ, gue mulai lebih banyak belajar dengan dengerin banyak musik hip-hop dari musisi seperti Eminem, Tupac, 50 Cent dan memperhatikan bumbu-bumbu yang mereka pakai saat “memasak” lirik sambil belajar beberapa hal seperti nulis lagu sendiri dan rhyming.
 
Dulu gue punya sekitar 10 notebook yang isinya lirik gue sendiri dan ada beberapa halaman yang isinya cuma menjejerkan rima aja. Contohnya “keterangan, peperangan, berpegangan.” Semuanya gue list sampai habis berhalaman-halaman, jadi pas gue freestyle kata-kata itu udah ada di perbendaharaan gue.
 
Gue juga masih terus mengembangkan rima dan teknik rap gue sendiri selagi sempet. Misalnya pas gue lagi nyetir dan macet, gue ngerap. Saat lagi nongkrong sama temen terus ada beat yang fun, gue ngerap sambil bercanda bareng. Dulu gue juga bisa absorb gaya rima dari pantun di kawinan yang ada di lingkungan tempat tinggal gue dulu. Kalo lo sadar, rima ada di mana-mana, lagu pop, tagline produk dan iklan TV. Kuncinya adalah peka dan kreatif karena sebagai rapper yang nulis rima, lo harus punya rhyme yang unik.
 
Q.     We saw you on some rap battle out there, dan Laze cukup terkenal dari freestyle rapnya yang sabi, so when did you start freestyling?
Answer:
I started it when I was 15. I was watching 8mile and thought: “Yo, I can do that.” Enggak lama setelah itu gue coba ngerap sendiri di depan kaca dengan sisir sebagai mic and out of nowhere gue yakin buat terjun ke battle rap. Gue pikir ini bukan hal yang sulit, mengejek orang dengan kata-kata ofensif yang berima.
 
Di battle rap yang pertama, gue langsung jadi juara mengalahkan emcee-emcee yang lebih senior dan berpengalaman. Dari sana, gue mulai berpartisipasi di berbagai rap battle dan selalu menang. Terus gue berpikir bahwa skill freestyle ini bisa dipakai lebih dari sekedar mengejek, jadi gue mulai nantang penonton untuk kasih tema buat gue rap spontan di setiap show.
 

 
Q.     As a rapper, darimana datangnya inspirasi utama lo pada saat proses membuat lagu?
Answer:
Gue adalah orang yang sangat suka mengamati keadaan sekitar gue. Kadang gue duduk sendiri di suatu tempat atau pegi sendiri dan ngamatin manusia berinteraksi. Not being judgmental, tapi kadang gue juga suka nebak cerita hidup orang yang gue amati seperti apa, latar belakangnya, interestnya, cara mereka bicara, bergaya, dan bertingkah.
 
Setiap manusia punya cerita yang menarik dan setiap cerita yang sampai ke gue yang kemudian gue olah menjadi lagu. Kelebihannya lagu itu jadi relatable karena ada sisi emosional yang bisa dirasakan orang banyak. Selain itu, cerita hidup gue sendiri pun jadi ide buat menulis lagu. Di beberapa lagu gue tulis dengan detil dan gamblang tanpa metaphor yang rumit.
 
Inspirasi juga datang dari pemikiran gue atau sudut pandang terhadap kehidupan dan hal yang terjadi di dunia. Contohnya gue punya lagu yang judulnya “Tak Ada” di mana gue menjelaskan konsep bahwa semua hal di kehidupan itu saling melengkapi satu sama lain.
 
 
Q.     You also have to be spontaneously creative right? How do you cope with that?
Answer:
I hear things, I read dictionary and newspapers, watch a lot of stuffs, and I’m having a conversation with myself in order to stay creative. I need to know myself better. Tapi hal yang biasa gue lakukan kalau freestyle adalah berpikir dua atau tiga langkah ke depan seperti main catur. Jadi waktu gue ucap satu kalimat, sebelum kalimat itu selesai gue harus udah tau apa lanjutannya.
 
Q.     Dimana ambience yang paling nyaman buat lo mencari ide baru?
Answer:
Could be everywhere. Kalau tahap pencarian ide malah sebisa mungkin enggak gue cari tapi muncul dengan natural. Nah, tapi ini beda dengan tahap penulisan, kalau nulis gue lebih suka ada di tempat yang gue bisa sesantai mungkin dan cenderung tenang seperti studio sendiri, di atas kasur, atau coffee shop.
 

 
Q.     Tell us a bit about your songs, Budak, Peringatan, Y’all Weak, ketiga single lo itu mengangkat isu sosial, so what’s the story? Kenapa lo memilih untuk mengangkat tema itu?
Answer:
Most of these so called rappers are very ignorant nowadays. Don’t get me wrong, I enjoy that type of songs too, tapi yang gue rasa adalah kenapa enggak buat lagu rap dengan tema yang lebih kreatif atau lebih dalam lagi. Gue bukan yang pertama mengangkat isu sosial di scene hip-hop lokal, tapi mungkin gue menyajikan lagu yang lebih ringan dengan kemasan segar sehingga lebih terasa seperti mendengar cerpen daripada terlibat obrolan berat.
 
Tujuan gue juga adalah untuk menyentuh hati pendengar dengan isu lagu yang relatable. Selain isu sosial, kadang gua juga menyelipkan hal-hal yang bersifat agak private dalam lagu supaya orang bisa merasa seperti kita sedang berinteraksi langsung dan saling kenal.
 
Q.     Apa hal yang paling membuat lo putar otak pada saat membuat suatu single?
Answer:
Gue suka berpikir, apa message dalam lagu ini yang cukup kuat untuk diberikan ke masyarakat luas dan bagaimana menimbulkan impact besar bagi gue sendiri dan orang lain. Yang buat gue lebih cemas adalah apakah lagu ini cukup stand out dari lagu hip-hop yang sedang bermunculan.
 
Buat gue bukan masalah catchy atau enggak tapi apakah dari 16 bar, 2 atau 3 verse tersebut bisa menancap dan pesannya bisa sampai. Gue juga mencoba membuat “selling pointin a positive way. Bukan kontroversi buruk, bukan gossip, tapi gimana lagu ini bisa terdengar bagus dan sound atau lirik serta flow dan pesan yang membuat orang bahas lagu tersebut dan menyebar mulut ke mulut.
 
Q.     Deskripsikan gaya lo dalam satu kalimat?
Answer:
Hood casual with a touch of 90s hip-hop brands. Gue lagi suka banget pake apparel dari brand-brand yang muncul di video hip-hop lawas yang orang udah lupa bahwa brand tersebut punya history di hip-hop culture.
 
Q.     Apakah lo punya one-liner yang bisa memecahkan suasana?
Answer:
Pewangi-pewangi alangkah indahmu, merah kuning hijau di langit yang biru. How was it? Great pun? Hahahaha!
 
Q.     Are you putting yourself in a different persona di kalangan keluarga dengan publik?
Answer:
Not really, but of course I’m less aggressive near my family. I’m pretty much the same ol’ me in public. Reckless, playful, quite awkward. I joke a lot, tapi serius ketika dibutuhkan. Beberapa bilang gue pendiem kalau dalam sebuah lingkungan, tapi sebenernya saat diam itulah gue mempelajari manusia dan interaksinya. Besar kemungkinan akan berbuah jadi lagu dalam beberapa hari.
 
 
 
Q.     Apa guilty pleasure lo dalam genre musik selain hip-hop?
Answer:
Waktu gue dengerin hip-hop yang temanya sangat ignorant, itu guilty pleasure, hahaha. Okay this will sound very un-gangsta since I enjoy Disney soundtracks or some dope songs from anime such as One Piece or Samurai X. It takes me back to my childhood when everything was peaceful.
 
Komposisi mereka sangat bagus menurut gue, bahkan kadang gue akui jauh lebih advance dari hip-hop. Lagu-lagu mellow 80s di radio dengan pasar usia 30 tahun ke atas juga sangat enjoyable ketika gue bosen denger drum 808 dari lagu hip-hop belakangan ini.
 
Q.     Hip-hop cukup jarang dikorelasikan dengan hal-hal berbau romantic, berbeda dengan R&B. What’s your take on that?
Answer:
Actually it depends, tipe rapper seperti apa yang lo dengerin. Kalau dengernya 50 Cent, Rick Ross, atau gangsta rapper lainnya lo pasti akan lebih banyak denger lagu tentang hidup keras di jalanan, uang dan kriminalitas dibanding hal romantis.
 
Nevertheless, image kuat dan macho itu bukan berarti enggak ada love song di dunia hip-hop. Gue sih nulis yang gue rasa, jadi kalau marah gue bisa tulis lirik agresif, but when I’m in love, you’re going to witness how I put feelings in every word.
 

 
Q.     Apakah menurut lo kolaborasi itu lebih bagus daripada persaingan di dunia hip-hop?
 Answer:
Dalam hip-hop semua hal adalah persaingan. Bahkan kolaborasi dalam sebuah lagu adalah persaingan. It’s always about who dropped the best verse in every communal song. Persaingan sendiri menurut gua frictionnya menyebabkan api yang buat hip-hop terus hidup. Api ini belakangan dapat dilihat oleh masyarakat awam. Persaingan ini dibutuhkan seperti apapun bentuknya bahkan dalam bentuk lagu diss mungkin, tapi itu harus dilakukan dengan tanggung jawab dan alasan yang tepat bukan sekedar “melompat selagi hangat” dan turut meramaikan drama.
 
Persaingan tidak jarang menyebabkan konflik, kita belajar dari Tupac - Biggie, Jay-Z - Nas, Drake - Meek Mill, konflik tersebut menyebabkan mata orang tertuju kepada mereka, pada drama yang ada. Mungkin memang menaikkan penjualan album, single, dan sebagainya, tapi apakah kita di sini ingin menjual drama atau mendisplay hip-hop sebagai sebuah karya seni modern yang elegan? Setiap pelaku hip-hop punya jawaban berbeda. Jawaban gue yang kedua.
 
Q.     That’s cool. Lalu apa dorongan lo untuk terus berkarya?
Answer:
Gue selalu punya mimpi besar yang mendorong gue untuk melakukan berbagai hal termasuk berkarya. I want to be big like Jay-Z big. Mungkin salah satu cita-cita gue selain jadi the most prolific rapper, punya record label sendiri. Gue mau punya bisnis, mungkin kuliner atau clothing line, mungkin bisnis ekspor-impor karena let’s keep it real, gue rasa musik Indonesia sedang tidak dalam kondisi yang terlalu baik.
 
Bisnis-bisnis di luar musik itu diharapkan bisa mendukung gue untuk konsisten berkarya. Selain itu keluarga meragukan apa yang gue lakukan sampai hari ini dan gue mau menghilangkan kecemasan mereka dan ngebuktiin kalau gue bisa hidup lebih baik dari sini dan tentu keinginan gue buat menambahkan perbendaharaan musik hip-hop lokal yang oke, karena gue enggak pengen waktu ada orang luar nanya, “rapper Indo yang bagus siapa?” Tapi kita enggak punya jawabannya atau malah dikasih contoh yang jelek.
 
Q.     Apakah ada suatu hal yang harus menjadi perbincangan dikalangan anak muda yang lo rasa kurang banyak diutarakan?
Answer:
Gue merasa lingkungan kita sangat mengkotak-kotakan stereotype sukses. Contohnya kita selalu dinasihati supaya pinter di sekolah, dapet nilai bagus. Tapi pada dasarnya, potensi diri masing-masing orang beda. Setelah kuliah, sukses itu didefinisikan kalau kita dapet kerja bergengsi dan jabatan yang tinggi.
 
Sedangkan kalau kita kenal diri sendiri dengan baik, gali potensi masing-masing, mungkin kita bisa tahu bahwa pintar enggak cuma di sekolah dan sukses bukan hanya di kantor. Jadi kita bisa menciptakan definisi sukses kita sendiri dengan profesi yang sesuai dengan potensi diri kita.
 
Mungkin kita bukan bos perusahaan besar atau pemegang saham tapi siapa bilang kita enggak bisa menuai hasil yang juga besar dengan jadi fotografer, videografer, musisi, pelukis, tattoo artist, atau hal kreatif yang bisa lo lakukan sesuai minat dan potensi lo.
 
Q.     One word or two for the youths to finalize the interview?
Answer:
Keep grinding, stop being yourself but be the best version of yourself.
 
Dengan pembawaannya yang sabi, Laze merupakan profil cowo yang smart, kreatif dan realistis. Perspektifnya yang berbeda dari kebanyakan orang membuat dia terus termotivasi untuk menghasilkan sesuatu yang bisa memiliki impact untuk dia dan orang lain. He’s an easy person dan tipikal cowo yang memberikan 100% dalam setiap hal yang dia lakukan.  Have you done 100%? Well it’s about time then, waktunya maksimalkan potensi diri lo di tahun yang baru ini untuk jadi cowo yang lebih sabi lagi.

Loading…